20 Juni 2013 - 09.22 WIB
BENGKALIS -DUA kapal pemyeberangan Roll On-Roll Off (Ro-Ro) rute Bengkalis-Sungai Pakning, KMP Tasik Gemilang dan KMP Swarna Putri nyaris tabrakan ketika hendak keluar dari Dermaga Sungai Selari, Kecamatan Bukit Batu, Rabu (19/6) sekitar pukul 08.30 WIB. Insiden ini dipicu kian menebalnya kabut asap di wilayah itu. Belakangan, jarak pandang hanya 100 meter.
Memang benar, dua kapal RoRo nyaris bertabrakan saat keluar dari pelabuhan Sungai Selari, berkemungkinan KMP Tasi Gemilang yang hendak keluar dari dermaga tidak melihat KMP Swarna Putri akibat kabut asap yang tebal mengakibatkan jarak pandang tinggal beberap ratus meter,” ujar Bambang, salah seorang petugas Adpel Sungai Pakning yang bertugas di Pelabuhan RoRo, Sungai Selari. Untuk tidak menginginkan hal-hal yag nanti bisa membahayakan keselamatan pelayaran, institusinya telah meminta pihak kapal untuk ekstra hari-hati, terutama saat keluar dari dermaga dan juga dalam berlayar karena perairan Sungai Pakning dan Bengkalis merupakan perairan yang banyak dilewati kapal baik dari luar maupun lokal. “Keberangkatan sengaja kita lewatkan 15 menit dari jadwal , mengingat kondisi perairan di selimuti kabut asap yang cukup tebal. Selain itu pihak kapal juga diminta menghidupkan alat navigasi serta saling berkomunikasi dengan kapal lain untuk mengambil jalur pelayaran yang aman,” katanya. Sementara itu Kapten Kapal KMP AENG Mas Lilik Tio mengungkapkan bahwa kabut asap yang cukup tebal menyelimuti Perairan Bengkalis pada hari ini sangat berisiko untuk pelayaran, selain jarak pandang yang pendek juga tidak bisa melihat dengan jelas dermaga saat melakukan gerak untuk bersandar kapal. “Kami harus hati-hati terhadap saat merapatkan kan kapal, mengingat kondisi perairan yang diselimuti kabut asap yang cukup tebal pada hari ini,” katanya. Menyerah Kian luasnya Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis akhirnya menyurati pemerintah pusat meminta bantuan. Surat tersebut dikirim kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Menteri Kehutanan RI dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra). Dalam surat yang diteken Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh tersebut, intinya Pemkab Bengkalis mengharapkan ada solusi secepat mungkin sebagai langkah antisipasi penanganan karhutla yang terjadi sekarang. Pemkab Bengkalis mengharapkan adanya hujan buatan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, dikarenakan karhutla yang terjadi sudah tidak terkendali lagi. Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Bengkalis, H Herman Mahmud, Rabu (19/6) menyebutkan kalau penanganan Karhutla yang terjadi sekarang sudah diluar batas kemampauan. Salah satu upaya dalam waktu dekat yang dapat dilakukan adalah membuat hujan buatan di lokasi kebakaran di kecamatan Bukitbatu. “Menghadapi situasi yang mulai tidak terkendali ini, kita sangat mengharapkan pemerintah pusat turun tangan. Pak Bupati sudah mengirimkan surat ke pemerintah pusat supaya ada tindakan bersama mengatasi karhutla yang semakin hari makin meluas,”ungkap Herman menjelaskan. “Upaya penanganan masih terus dilakukan. Tetapi hasilnya masih jauh dari harapan. Keterlibatan Regu Pemadam Kebakaran (regdam) perusahaan swasta di Bukitbatu, BPBD-Damkar Pemprov Riau serta Bengkalis, masyarakat peduli Api (MPA) di Bukitbatu sampai sekarang belum membuahkan hasil, sehingga satu-satunya solusi adalah membuat hujan buatan,” terang Herman, mantan Kadis Perikanan ini. Sekolah Diliburkan Sejak sepekan ini, kabut asap yang menyelimuti Pulau Bengkalis. Asap tidak hanya terkihat di jalan atau di tempat terbuka, tapi juga sudah masuk ke rumah-rumah warga. Terkait persoalan tersebut, Wakil Bupati Bengkalis, H Suayatno minta kepada Dinas Pendidikan untuk segera mengambil kebijakan meliburkan aktifitas belajar di sekolah. “Saya lihat kondisi kabut asap sudah sangat parah sekali. Berarti sudah bendera merah. Untuk itu saya minta kepada Dinas Pendidikan untuk segera meliburkan sekolah-sekolah di Pulau Bengkalis sampai kondisi udara membaik,” ungkap Suayatno, Rabu (19/6). Diungkapkan Suayatno, pencemaran udara akibat kabut asap hasil pembakaran lahan dapat membahayakan kesehatan bagi warga, terutama bagi anak-anak sekolah yang sangat rentan dengan masalah ini. Jika anak-anak sekolah, terutama tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) tidak boleh beraktivitas di luar rumah selama kabut asap ini. “Saya mendapat kabar, sudah banyak anak-anak yang dilarikan ke rumah sakit akibat asap ini. Makanya, jika sekolah tidak segera diliburkan, saya khawatir akan berdampak lebih buruk lagi bagi anak-anak. Saat ini sudah selesai ujian, proses belajar mengajar seperti hari-hari biasa, sebaiknya sekolah diliburkan saja,” ujar Suayatno. Penetapan libur sekolah mulai efektif diberlakukan, Kamis (20/6) melalui Surat Edaran (SE) dari Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bengkalis. Sebelumnya, Rabu (19/6) pihak Disdik telah memberitahu UPTD sudah mengizinkan sekolah dasar untuk memulangkan anak didik mereka. Untuk sementara pemberlakukan libur sekolah ini baru sebatas anak-anak SD. Dinas Pendidikan sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan yang telah melakukan survei di beberapa titik. Dari hasil survei tersebut, untuk sementara waktu sekolah yang diliburkan baru sebatas tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Namun jika kondisi semakin memburuk, tidak tertutup kemungkinan pihak Disdik akan meliburkan seluruh sekolah di pulau Bengkalis. Bom Air Selain nyaris membuat sua kapal Ro-Ro tabrakan, sejumlah masyarakat Desa Tanjung Leban dan sekitarnya memilih mengungsi ke jalan karena khawatir sewaktu-sewaktu api bakal membakar rumah mereka menyusul kebakaran lahan terus meluas dan sudah mendekati pemukiman warga. Kabut asap dan tiupan angin kencang juga membuat warga tidak sanggup bertahan di rumah atau pondok-pondok yang berada di kebun. Informasi yang dihimpun di lapangan, sampai kemarin ada sekitar 4 pondok masyarakat yang berada di dalam kebun sawit dan satu rumah permanen terbakar. Sementara titik api mulai dari Desa Tanjung Leban, Sepahat (Bengkalis) dan Pelintung (Dumai) diperkirakan mencapai lebih dari 20 titik api. Sementara Kapolres Bengkalis AKBP Ulung Sampurna Jaya saat dikonfirmasi diruang kerjanya membenarkan bahwa dia dan sejumlah perwira lainnya, langsung meninjau beberapa titik kebakaran di Desa Tanjung Leban, dan memberikan bantuan sembako kepada korban yang diungsikan, Selasa (18/6) sore kemarin. “Iya betul, kita kemarin bersama beberapa perwira meninjau ke TKP, juga menyerahkan sdikit sembako bagi warga yang mengungsi, mudah-mudahan dengan bantuan sembako ini dapat bermanfaat dan meringankan bagi keluarga pengungsi. Karena kebun untuk mencari nafkah para warga ini sudah terbakar,” tuturnya, Rabu (19/6) kemarin. Humas PT Arara Abdi-Sinar Mas Forestry, Nurul Huda, yang ikut turun ke lokasi kebakaran di Desa Sepahat dan Tanjung Leban, turut membenarkan bahwa sejumlah warga di sana mengungusi ke jalan sejak Selasa (18/6). Dipaparkan Nurul, titik api yang terpantau dari Tanjung Leban, Sepahat dan Pelintung sudah mencapai 20-an lebih. Sementara jarak pandang di udara hanya berkisar 30-50 meter sehingga helikopter tidak bisa terbang untuk membantu melakukan pemadaman dengan menggunakan bom air. “Hari ini upaya pemadaman menggunakan helikopter tidak bisa dilakukan karena kabut sangat tebal. Kondisi ini diperparah lagi dengan angin yang bertiup kencang adan arahnya berubah-ubah,” ujar Nurul, Rabu (19/6). Sementara upaya pemadaman dari darat tetap dilakukan oleh regu pemadam perusahaan. Bahkan sejak kemarin ditambah lagi lima regu sehingga jumlah keseluruhan menjadi 15 regu. “Hari ini kita menambah lagi lima regu sehingga totalnya menjadi 15 regu pemadam. Satu regu berjumlah 10 orang,” jelas Nurul. Ketika ditanya apakah areal HTI perusahaan ikut terbakar? Nurul mengatakan bahwa tanaman yang berada di sekitar perbatasan dengan kebun masyarakat sudah banyak yang layu akibat terkena panas tapi api belum sampai masuk ke areal perusahaan. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar