Sabtu, 22 Juni 2013

Kabut Asap Terburuk
22 Juni 2013 - 08.34 WIB


BENGKALIS - Hampir tidak ada tempat untuk lari dan bersembunyi deri dekapan kabut asap. Asap begitu merejalela, bukan hanya di jalanan atau di tempat-tempat terbuka, di kamar tidur, kamar mandipun mereka ada. Parahnya, kabut kali ini bukan hanya menerbangkan asap putih, tapi juga abu hitam dari sisa kebakaran.

Orang Bengkalis menyebut, musibah kabut asap yang terjadi kali ini menjadi yang terparah sejak “musim asap” ada di daerah ini. Jarak pandang hanya beberapa puluh meter saja, bahkan sejumlah kapal angkutan laut terpaksa menggunakan alat navigasi canggih untuk menghindari tabkaran.
Berbeda dari serangan asap yang sudah-sudah, kali ini tidak semata kepulan asap putih yang berterbangan, tapi juga abu hitam dari sisa kebakaran hutan. Halaman dan lantai rumah warga jadi kotor dan menghitam, benda atau barang yang ditarok di luar rumah akan kotor dan berdebu, padahal hanya beberapa jam saja.
“Berpuluh kali kita mengalami musibah asap, kali ini menjadi yang terparah. Tak pernah-pernah sepekat ini, udara kotor dan itu terpantau oleh mata kasar kita, awan juga terlihat agak menyeramkan, gelap dan sedikit kemerahan,” kata Yani Sakiman (56) warga Bengkalis.
Kondisi paling parah dimulai sejak Selasa (18/6) lalu. Kabut asap terlihat di mana-mana, jarak pandang sekitar 200 meter saja. Semula warga mengira, kabut akan menghilang seiring matahari mulai meninggi, celakanya, semakin siang kabut terlihat semakin menebal dan cuaca semakin panas dan gersang.
Kabut asap akan mulai berkurang seiring hari semakin sore dan menjelang malam. Kendati kabut masih menyesakkan dada dan memedihkan mata, tapi tidak separah saat pagi sampa siang hari. Kondisi udara akan kembali memburuk ketika pagi mula merangkak siang. “Jelang malam kabut agak berkuran, tapi saat pagi kabut turun kembali,” kata Semah pula.
Pembagian masker terlihat dimana-mana, selain ada yang dibagikan gratis, adapula yang menjualnya. Yang memakai maskerpun tidak hanya trlihat di jalan-jalan atau saat warga mengendarai kendaraan, tapi juga di rumah dan di tempat-tempat layanan umum.
Seperti terlihat di RSUD Bengkalis, sebagian besar petugas medis di rumah sakit milik daerah tersebut mengenakan masker, karena kabut asap menyerang sampai ke kamar pasien. “Luar biasa kabut asap kali ini, sampai masuk ke dalam rumah,” cerita Oka warga Bengkalis lainnya.
Upaya mengatasi kebakaran terus dilakukan oleh regu pemadam, baik regdam dari Bengkalis, Kecamatan, Masyarakat Peduli Api yang ada di desa juga regdam dari Provinsi dan perusahaan. Namun siapa nyana, petugas yang sudah bertungkus lumus dan erhari-hari berjibaku dengan asap dan api tersebut akhirnya lempar handuk.
Menurut Kadis Perkebunan dan Kehutanan, H Herman Mahmud, upaya pemadaman sudah maksimal, tapi sudah tak mampu lagi meredam amukan si jago merah. Satu-satunya jalan, meminta bantuan pusat untuk membuat hujan buatan seraya berdoa agar hujan turun.
Jumat (21/6) pagi kemarin, matahari menyapa masyarakat Bengkalis dengan sedikit garang, pertanda kabut asap mulai menghilang. Pun begitu saat siang, matahari tak lagi malu seperti hari-hari sebelumnya. Sayangnya, saat hari mulai condong, sekitar pukul 14.00 Wib, awan kembali berubah merah dan kelam, membuat sebagian warga takut berkatifitas di luar rumah. “Mungkin tadi pagi arah angin berubah, setelah agak sore kembali mengarah ke Bengkalis,” ujar Mega pula.(auf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar